Senin, 22 April 2013

NABIYULLAH KHIDIR

Mungkin kita sudah hapal nama-nama 25 Nabi mulai dari Nabi Adam as sampai Nabi Muhammad SAW. Namun tak banyak yang mengenal kisah Nabi Khidir as. Nabi Khidir as adalah seorang nabi misterius yang dituturkan Allah dalam Surat Al-Kahfi ayat 65-82. Nabi Khidir as ini mengajarkan ilmu dan kebijaksanaan kepada Nabi Musa as. Namun tidak banyak kisah lainnya tentang Nabi Khidir as sehingga Nabi Khidir as sering disebut nabi misterius. Nabi Khidir as berasal dari kata Al-Khidir yang berarti “seseorang yang hijau” yang melambangkan kesegaran jiwa dan pengetahuan. Nabi Khidir as adalah cara Allah SWT untuk menegur Nabi Musa as. Pada suatu kisah disebutkan bahwa Nabi Musa as menyebutkan bahwa dirinya adalah orang yang paling berilmu di depan khalayak Bani Israil. Oleh karena itu Allah SWT menegurnya dengan firman : “Sesungguhnya di sisi-Ku ada seorang hamba yang berada di pertemuan dua lautan dan dia lebih berilmu daripada kamu”. Mendengar itu Nabi Musa as bertanya di mana dapat menemui orang tersebut dan timbul keinginan Nabi Musa as untuk mempelajari ilmu dari Hamba Allah SWT yang difirmankan Allah SWT “Bawalah bersama-sama kamu seekor ikan di dalam sangkar dan sekiranya ikan tersebut hilang, di situlah kamu akan bertemu dengan hamba-Ku itu”. Akhirnya Nabi Musa as berangkat membawa ikan di dalam wadah dan berangkat bersama-sama pembantunya bernama Yusya bin Nun. Sampai pada sebuah batu, saat keduanya beristirahat, ikan yang mereka bawa terjatuh ke dalam air. Yusya yang melihatnya lupa menceritakannya dan baru keesokan harinya Yusya mengatakannya. Akhirnya keduanya kembali ke tempat ikan tersebut menghilang. Sesampainya di pertemuan dua laut, Nabi Musa as melihat seorang hamba Allah SWT yang berjubah putih bersih. Terdapat banyak pendapat tentang tempat ini, ada yang mengatakan bahwa tempat tersebut adalah pertemuan Laut Romawi dengan Parsia, yaitu tempat bertemunya Laut merah dengan Samudra Hindia. Namun pendapat lain mengatakan bahwa tempat tersebut di antara Laut Roma dengan Lautan Atlantik. Bahkan ada yang mengatakan tempat tersebut adalah Ras Muhammad, yaitu antara Teluk Suez dengan Teluk Aqabah di Laut Merah. Melalui pertemuan tersebut, Nabi Musa as meminta Nabi Khidir as untuk mengajarkan ilmu dan kebijaksaan. Nabi Khidir as mensyaratkan bila Nabi Musa as ingin belajar, maka Nabi Musa as harus bersabar dan tidak menanyakan tentang sesuatu pun sampai Nabi Khidir as sendiri menerangkannya. Hal ini tertulis pada Surat Al-Kahfi ayat 70 : Dia (Khidir) selanjutnya mengingatkan, “Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu pun sehingga aku sendiri menerangkannya kepadamu.” Akhirnya Nabi Musa as pun mengikuti Nabi Khidir as dan terjadi beberapa peristiwa yang menguji Nabi Musa as untuk bertanya. Peristiwa pertama : Nabi Khidir as menghancurkan perahu yang ditumpangi mereka bersama. Nabi Khidir as mengingatkan janji Nabi Musa as saat bertanya sehingga Nabi Musa as pun meminta maaf. Peristiwa kedua : setelah sampai di daratan, Nabi Khidir as membunuh seorang anak yang sedang bermain. Kembali Nabi Musa as bertanya, namun kembali pula Nabi Khidir as mengingatkan janji Nabi Musa as. Akhirnya Nabi Musa as diberi kesempatan sekali lagi untuk tidak bertanya, bila melanggar maka Nabi Musa as tidak boleh mengikuti perjalanan bersama Nabi Khidir as. Peristiwa ketiga : mereka tiba di suatu wilayah yang tidak bersahabat sehingga membuat Nabi Musa as kesal, namun Nabi Khidir as malah menyuruh Nabi Musa as untuk memperbaiki tembok rumah salah satu penduduk. Karena tidak tahan akhirnya Nabi Musa as bertanya yang membuat Nabi Khidir as melarang Nabi Musa as melanjutkan perjalanan bersama Nabi Khidir as. Akhirnya Nabi Khidir as menjelaskan semua peristiwa. Saat Nabi Khidir as menghancurkan perahu yang mereka tumpangi karena perahu itu dimiliki oleh seorang yang miskin dan di daerah itu tinggallah seorang raja yang suka merampas perahu. Kemudian saat Nabi Khidir as membunuh seorang anak karena kedua orang tuanya adalah pasangan yang beriman dan jika anak ini menjadi dewasa dapat mendorong bapak dan ibunya menjadi orang yang sesat dan kufur. Kematian anak ini digantikan dengan anak yang shalih. Hingga kejadian yang ketiga saat memperbaiki tembok adalah bahwa rumah yang dinding diperbaiki itu milik dua orang kakak beradik yatim yang tinggal di kota tersebut. Di dalam rumah tersebut tersimpan harta benda yang ditujukan untuk mereka berdua. Ayah kedua kakak beradik ini telah meninggal dunia dan merupakan seorang yang shaleh. Jika tembok rumah tersebut runtuh, maka bisa dipastikan bahwa harta yang tersimpan tersebut akan ditemukan oleh orang-orang di kota itu yang sebagian besar masih menyembah berhala, sedangkan kedua kakak beradik tersebut masih cukup kecil untuk dapat mengelola peninggalan harta ayahnya. Mendengar hal tersebut, Nabi Musa as bersyukur karena Nabi Khidir as telah mengajarkan ilmu yang tidak dapat dituntut atau dipelajari yaitu ilmu ladunni. Sebelum berpisah, Nabi Khidir as berpesan kepada Nabi Musa as: “Jadilah kamu seorang yang tersenyum dan bukannya orang yang tertawa. Teruskanlah berdakwah dan janganlah berjalan tanpa tujuan. Janganlah pula apabila kamu melakukan kekhilafan, berputus asa dengan kekhilafan yang telah dilakukan itu. Menangislah disebabkan kekhilafan yang kamu lakukan, wahai Ibnu `Imran.” Dari kisah tersebut kita dapat mengambil hikmah - Tidak boleh ada seorang manusia pun yang mengklaim dirinya lebih berilmu dibandingkan dengan orang yang lain. - Kita harus bersabar dalam mendapatkan kebijaksaan dari suatu peristiwa yang dialami. - Setiap murid harus bersedia mendengar penjelasan gurunya dengan seksama.

Bagikan :